<< October 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31

Home

Dead School Project
Dead School weblog
My Books
Weblog koleksi buku
Rendezvous
Blog Puisi, Cerpen, Essai
My Friendster Page
Jaringan teman-teman online 
Komikaze weblog
Weblog komik underground
Artwork

My Deviant Art gallery




Hello makasih udah berkunjung di blog ini, semoga tulisan disini bisa dibaca tanpa menimbulkan prasangka tapi memberi wacana yang baik buat pemikiran kita, tetap membaca buku ya... School is Dead, Books Never Die!!


agung@comic.com




Lihat Buku Baru:

Dar Mizan
Elexmedia
Gramedia
Grasindo
Jalasutra
LKiS
Metafor
Mizan
Pustaka Zahra
Serambi


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



 
Thursday, September 15, 2005
Pendidikan Diterkam Kapitalisme Global



Beruntunglah loe yang hari gini masih bisa sekolah dan kuliah tanpa pusing mikirin duit buat bayar fasilitas pendidikan yang beberapa tahun ini mahalnya gila-gilaaan. Sadar nggak kalau banyak temen-temen kita banyak yang nggak seberuntung loe yang kuliah di universitas bergengsi dan berangkat kuliah naik mobil mewah keluaran terbaru. Oke lah Sekolah emang butuh biaya tapi seharusnya negara punya kebijakan yang memihak saudara-saudara kita yang masih dikategorikan sebagai orang-orang miskin. Sebenarnya apa yang bikin sekolah jadi begitu mahalnya. Gue rasa kita harus mengkritisi apa yang digembar-gemborkan sebagai globalisasi ekonomi. Lho apa hubungannya globalisasi dengan sekolahan? begini jack,...orang tua loe pasti nyekolahin loe semua biar jadi pintar kan? biar bisa dapet kerja biar hidupnya makmur dst. Jadi lembaga sekolahan pada awalnya adalah tradisi umat manusia mempertahankan eksistensinya. Masyarakat mendidik generasi-generasi penerusnya lewat lembaga sekolah, mentransfer nila-nilai, keahlian dan kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan sosial maupun alam. Nah, itu adalah visi mulia pendidikan lantas apa hubungannya dengan globalisasi?

Baik, kita lihat aja ya perkembangan mutakhir zaman sekarang ini. Kita semua sekarang sedang memasuki zaman baru yang ditandai dengan globalisasi ekonomi dan menguatnya paham Pasar Bebas. Paham ini telah menggeser visi mulia lembaga pendidikan tadi menjadi sekedar alat untuk mencari keuntungan alias akumulasi kapital yang akhirnya menempatkan pendidikan hanya sebagai komoditi ekonomi. Bagaimana prosesnya, kita bisa melihat apa yang dilakukan oleh aktor-aktor utamanya yaitu Trans National Corporations (TNCs) dibantu oleh Bank Dunia/IMF melalui kesepakatan yang dibuat di WTO yanga menganut paham bahwa pertumbuhan ekonomi hanya bisa dicapai sebagai hasil normal melalui kompetisi bebas. Jadi mekanisme proses ekonomi benar-benar diserahkan pada pasar bebas tanpa campur tangan pemerintah dan negara. Implikasinya ya pemerintah dijauhkan dari campur tangan untuk meregulasi perusahaan-perusahaan swasta. Semua aspek mengalami liberalisasi termasuk di bidang pendidikan. Salah satu yang sangat terasa adalah proses otonomi kampus dan pencabutan subsidi pendidikan karena subisidi pendidikan akan menghambat persaingan bebas dalam bidang pendidikan.

Tapi kan seharusnya pemerintah juga punya otonomi untuk mengatur semua aspek yang berhubungan dengan rakyatnya agar tercapai keadilan dan kemakmuran? Gimana mo ngatur-ngatur jack? Pemerintah kita ini adalah pemerintah yang miskin terjerat hutang internasional yang tak lain dikucurkan para aktor utama pasar bebas yaitu Bank Dunia dan IMF didukung barisan negara-negara maju yang dipimpin Amerika Serikat. So...kita-kita bisa ngeliat kan bahwa proses penghisapan ini adalah bentuk neo kolonialisme. Siapa yang menentang liberalisasi akan dihancurkan dengan segala cara kalau perlu dengan agresi militer seperti yang dialami Afganistan dan Irak.

Virus globalisasi ini juga mendorong individualisme, jika dulu tanggung jawab pendidikan adalah dipikul oleh publik dalam hal ini negara yang mengatur penyelenggaraan pendidikan serta menjamin hak semua warga negara memperoleh pendidikan, tetapi karena proses liberalisasi serta hutang yang membangkrutkan negara dan pemerintah, tanggung jawab pendidikan sepenuhnya dibebankan kepada individu. Harga pendidikan yang dulu disubsidi negara akhirnya dibebankan pada rakyat secara individual. Proses ini mendorong dunia pendidikan mengalami pergeseran dari fungsi awalnya dengan masuknya kepentingan modal sebagai penyelenggara pendidikan yang memposisikan pendidikan sebagai komoditas.

Buku berjudul Kapitalisme Pendidikan karangan Francis Wahono ini mencoba memberikan konsep pendidikan yang memanusiakan dan memerdekaan. Komodifikasi pendidikan sekarang ini cenderung tidak memerdekakan dan memanusiakan. Pendidikan hanya bisa diakses oleh kelas sosial tertentu yaitu kelas yang menikmati kucuran rejeki globalisasi. Pendidikan justru mempertegas demarkasi kelas sosial bukan memfasilitasi mobilitas vertikal antar kelas. Buku ini mencoba mencari solusi untuk menciptakan mekanisme yang sehat dalam penyelenggaraan pendidikan yang mengembalikan pendidikan sebagai tanggung jawab masyarakat bersama bukan tanggung jawab individual. Beberapa tinjauan aspek ekonomi pendidikan dikupas dengan data-data kuantitatif, sebenarnya gue males membaca angka-angka statistik tetapi penting juga untuk melihat data statistik sebagai data penting yang mendukung konsep dan paradigma pendidikan yang berkeadilan sosial. Gue rasa persoalan degradasi visi pendidikan oleh pengaruh liberalisasi ekonomi harus kita sikapi sama-sama sebagai tanggung jawab bersama bahwa pendidikan seharusnya untuk memanusiakan manusia serta menjunjung tinggi kemanusiaan itu sendiri.

Mungkin loe masa bodoh aja dengan persoalan ini karena loe adalah bagian dari kelas elit yang menjadi agen kapitalisme global (juga neo kolonialis). Loe nggak sadar jika proses yang memapankan loe di kelas elit dan makmur negeri ini sudah mengorbankan kaum miskin melalui proses kolonialisme ekonomi. Satu-satunya cara mereka untuk bisa lepas dari lingkaran kemiskinan adalah melalui pendidikan, jika pendidikan adalah sebuah harga yang mahal kita tidak akan pernah menjadi bangsa yang merdeka karena telah terjadi proses pemiskinan struktural besar-besaran di negeri ini. Semoga ada setitik keberanian bagi kita semua untuk melawan proses kolonialisme ekonomi yang berkedok globalisasi dan liberalisasi ini.[...]

Posted at 08:03 pm by arixx
Comments (3)  

 
Thursday, September 08, 2005
Merenungkan Bit dan Atom
 

Loe semua tentu sudah nggak asing lagi dengan benda yang bernama komputer dan internet, bahkan loe nggak nyangka kalau hidup loe sudah nggak bisa lepas lagi dari komputer dan internet (seperti gue). Perkembangan teknologi informasi udah gila-gilaan banget sekarang ini, komputer udah canggih banget, handphone udah mutakhir, internet ada dimana-mana. Gokilnya lagi semua bisa terintegrasi, komputer, hp dan internet. Barang-barang itu ngetrend di kalangan anak-anak muda gaul. Loe nggak bisa ngenet dan nggak punya hp? wah hari gini...kasian deh loe. Oke deh, loe yang baca tulisan ini jelaslah bisa ngenet..hehehe, tapi pernah kepikir nggak sih apa sebenernya yang terjadi dan gimana prosesnya, jangan sampai kita-kita ini cuman jadi korban trend aja.

Gue sempet baca buku yang menurut gue sih cukup bisa ngejelasin fenomena sekarang ini, padahal ini buku ditulis tahun 1995 kurang lebih sepuluh tahun yang lalu tapi isinya nggak jauh beda dengan apa yang kita alami sekarang ini. Judulnya aja Being Digital, isinya ngupas abis tentang perkembangan teknologi informasi dan pengaruhnya dalam kehidupan kita. Jadi si Nicholas Negroponte yang nulis buku ini punya gagasan mendasar tentang perbedaan bit dan atom yang menjadi konsekuensi untuk memahami jaman digital sekarang ini. Kalian kalo pernah sekolah tentu kenal apa yang namanya atom kalo nggak salah kan atom adalah partikel terkecil dari sebuah benda, jadi semua benda baik hidup dan mati di dunia ini terdiri dari atom-atom ya kan? moga-moga nggak salah deh gue. Lantas apa sih bit? Bit adalah unsur terkecil dalam DNA informasi. Kalo Atom terdiri dari proton dan netron, sementara bit memiliki dua keadaan yaitu on dan off yang disimbolkan sebagai 1 dan 0. Nah kalo loe liat film The Matrix kan ada tuh simbol angka-angka 1 dan 0 yang menyusun dunia virtual tempat Neo beraksi. Nggak perlu pusing deh soal apa itu bit, secara simpelnya sih semua benda yang bisa kita sentuh terdiri dari atom sementara kode-kode informasi yang kita terima terdiri dari rangkaian bit. Bit inilah yang menjadi unsur dasar pembentuk komputasi digital. Hebatnya lagi kita bisa mendigitalisasi informasi seperti suara dan gambar dalam kode binner yang diwakili oleh 1 dan 0. Contohnya kalo kamera yang nyimpen data dalam bentuk negatif film berarti data tersebut masih disimpan melalui media fisik (atom), kalo dengan kamera digital, rekaman gambar kita disimpan dalam bentuk file digital (bit). Sementara citraan visual yang kita rekam dalam memori kita juga hanya terdiri dari kode-kode binner (bit) yang diproses oleh otak kita.

Lebih jauh lagi, Negroponte tidak hanya menyinggung soal inovasi teknologi digital dengan ditemukannya PC (Personal Computer), OS Windows, kepingan CD, TV, internet dan lain-lain tetapi juga tentang peralihan dari abad industri ke abad pasca industri atau abad informasi dan kita sekarang sedang melangkah menuju ke era pasca informasi. Abad industri adalah zaman produksi ekonomi massal yang datang dari bidang manufaktur dengan produknya yang masih berorientasi pada atom, dengan metode yang seragam dan berulang dalam ruang dan waktu mana pun. Abad informasi adalah juga abad komputer meski skala ekonominya sama tapi tidak lagi bergantung pada ruang dan waktu karena teknologi informasi telah meniadakan jarak ruang dan waktu itu sendiri.

Lantas zaman pasca informasi seperti apa, Negroponte mengupas tentang kehidupan digital dengan tulang punggung jaringan internet. Cara berinteraksi dan berbisnis di zaman digital ini akan mengalami pergeseran besar. Kita bisa melihat sekarang cara berinteraksi dan berkomunitas juga melalui internet, mencari pekerjaan lewat internet, berkencan pun bisa dengan internet yang terdiri dari milyaran bit-bit informasi. Di Indonesia pertumbuhan warnet di kota-kota besar menunjukkan pertumbuhan yang terus meningkat. Sistem perbankan pun sudah online dengan atm dan mesin gesek credit card dimana-mana. Secara nggak sadar transaksi keuangan pun sudah online, kita merasa lebih nyaman menggunakan kartu kredit dan kartu debit untuk bertransaksi, uang pun bukan terdiri dari kertas (atom) tapi perpindahan informasi bit-bit dari rekening ke rekening. Pelan-pelan tapi pasti digitalisasi mengubah aspek-aspek kehidupan kita.

Gue nggak bisa memastikan apakah kita sudah memasuki era pasca informasi seperti yang diramalkan Negroponte tapi jujur saja komputer dan internet membuat gue punya cara pandang baru terhadap pola pekerjaan gue. Bukan kah menyenangkan ketika kita bekerja tanpa terikat dengan ruang dan waktu, dengan komputer yang tersambung online sementara kita menjual ide-ide kita (dalam bit tentunya) ke seluruh dunia dan uang mengalir sendiri ke rekening kita? Semakin lama mungkin semakin banyak orang yang bekerja untuk dirinya sendiri, dan majikan terbesar di abad digital nanti adalah “diri sendiri”...hmm menyenangkan juga.[..]


Posted at 11:43 pm by arixx
Comment (1)  

Mengenal Karl Marx Lewat Komik


Karl Marx dan Marxisme, banyak orang merinding mendengarnya saat rezim orde baru berkuasa. Bagaimana tidak? ribuan orang telah menjadi tumbal politik karena dicap marxist dan komunis. Sedemikian mengerikankah Marx dan Marxismenya? sehingga rezim orde baru begitu ketakutan dan mengalami phobia yang berkepanjangan terhadap aliran pemikiran ini. Pelarangan ajaran Marxisme secara total, memang telah menutup pemahaman publik terhadap Marxisme itu sendiri, publik hanya mengenal bayangan hitam Marxisme sebagai “setan” yang berbahaya, tanpa kesempatan mengenal bagaimana Marxisme dipahami dalam wacana intelektual dan ilmiah. Pergesekan wacana publik yang telah sedemikan lama membeku memang masih menyisakan trauma-trauma politik di masa lalu, tidak terkecuali di jaman reformasi sekarang ini. Memang akhir-akhir ini buku-buku kiri begitu marak diterbitkan, dan konon laku keras di pasaran. Bagaikan kran yang terbuka setelah tersumbat selama 32 tahun rezim orba, kini antusiasme publik terhadap hal-hal yang berbau kiri begitu tinggi dari buku hingga barang-barang merchandise semacam tas, poster atau syal. Bahkan ada kecenderungan terjadi komodifikasi hal-hal yang berbau kiri, apakah kiri telah bergeser menjadi trend bukan sebagai keterterikan ideologis? Saat kapitalisme, hedonisme dan budaya pop menemukan jamannya. Siapapun bisa membeli Che Guevara lewat sepotong poster dan tas atau menikmati Lenin dalam nyamannya kaos oblong. Nah, apa salahnya kita berkenalan dengan Marx melalui lembar-lembar komik.


Buku komik Marx Untuk Pemula setebal 155 halaman ini--setelah sempat bergerilya dalam bentuk komik fotokopian dari tangan ke tangan di kalangan aktivis kiri di kampus-kampus--adalah terjemahan dari Marx for Begginer karangan Rius (seorang kartunis dari Mexico).. Pemikiran-pemikiran Marx yang radikal memang sangat akrab di sebagian kaum muda kita. Ide-ide tentang pertentangan kelasnya telah banyak diadopsi dalam berbagai pemikiran-pemikiran sosial. Terus terang. jika berbicara teori kelas kita tak bisa mengabaikan pemikiran Marx.


Membaca Marx dalam format komik tentu lebih menyenangkan daripada anda membacanya dalam buku-buku tebal (dijamin membikin kening anda pasti berkerut-kerut!). Sebagaimana judulnya, komik ini diperuntukkan bagi pemula yang ingin mengetahui siapakah Marx beserta Marxismenya. Melalui gaya yang jenaka Rius mengurai Marx dengan menelusuri latar belakang pemikirannya, kehidupan pribadi serta ide-ide besar yang dihasilkannya. Dengan menelusuri latar belakang pemikiran Marx, komik ini sekaligus menjadi pengantar filsafat yang ringkas. Di sini anda akan berjumpa dengan Hegel, Kant, Feuerbach, Descartes, Spinoza bahkan filsuf-filsuf seperti Heraclitus, Phytagoras, Socrates, Aristoteles, Democritus dan Plato tidak ketinggalan ikut nongol juga. Layaknya sebuah sejarah pemikiran, Marx adalah salah satu tonggaknya.

Lahirnya sebuah pemikiran tentu tidak bisa lepas dari konteks jamannya, begitu juga Marx. Penggambaran kehidupan pribadi Marx akan memudahkan kita memahami gejolak-gejolak pemikirannya. Kehidupan pribadi Marx sendiri ternyata sangat memprihatinkan, selalu dalam kubangan kemiskinan. Marx tersingkir dari pekerjaan dan negaranya justru karena tulisan-tulisan dan pemikirannya. Marx sekeluraga beruntung memiliki seorang sahabat seperti Engels yang membantunya di saat krisis. Engels juga yang kelak menyelessaikan dua jilid terkahir berdasar catatan Marx dari tiga jilid karya besar Das Kapital yang hanya sempat diselesaikan Marx satu jilid saja. Marx meninggal dalam keadaan sakit dengan kondisi yang sangat miskin. Ide-ide Marx telah mengubah dunia, banyak perubahan-perubahan dan gerakan-gerakan masyarakat seperti di Kuba, Rusia, China, Chili, Vietnam bahkan Indonesia terinspirasi oleh pemikiran-pemikiran Marx. Kritiknya terhadap kapitalisme, penindasan kelas, alienasi, dialektika, materialisme historis sampai cita-cita masyarakat tanpa kelas, masih menjadi perdebatan sampai sekarang.


Secara ringkas, komik ini cukup membantu untuk memahami Karl Marx dan pemikirannya. Gambar-gambar dan teks yang disajikan bisa diandaikan sebagai sebuah potongan-potongan rekaman sejarah perjalanan panjang pemikiran manusia. Karl Marx boleh mati, tapi Marxisme telah membelah dunia menjadi dua. Mereka yang memujanya dan mereka yang mencaci-makinya.


Posted at 11:37 pm by arixx
Make a comment