|
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
agung@comic.com
Lihat Buku Baru:
Dar Mizan
Elexmedia
Gramedia
Grasindo
Jalasutra
LKiS
Metafor
Mizan
Pustaka Zahra
Serambi
|
Thursday, September 15, 2005 |

|
Thursday, September 08, 2005 |
Loe semua tentu sudah nggak asing lagi dengan benda yang bernama komputer dan internet, bahkan loe nggak nyangka kalau hidup loe sudah nggak bisa lepas lagi dari komputer dan internet (seperti gue). Perkembangan teknologi informasi udah gila-gilaan banget sekarang ini, komputer udah canggih banget, handphone udah mutakhir, internet ada dimana-mana. Gokilnya lagi semua bisa terintegrasi, komputer, hp dan internet. Barang-barang itu ngetrend di kalangan anak-anak muda gaul. Loe nggak bisa ngenet dan nggak punya hp? wah hari gini...kasian deh loe. Oke deh, loe yang baca tulisan ini jelaslah bisa ngenet..hehehe, tapi pernah kepikir nggak sih apa sebenernya yang terjadi dan gimana prosesnya, jangan sampai kita-kita ini cuman jadi korban trend aja.
Gue sempet baca buku yang menurut gue sih cukup bisa ngejelasin fenomena sekarang ini, padahal ini buku ditulis tahun 1995 kurang lebih sepuluh tahun yang lalu tapi isinya nggak jauh beda dengan apa yang kita alami sekarang ini. Judulnya aja Being Digital, isinya ngupas abis tentang perkembangan teknologi informasi dan pengaruhnya dalam kehidupan kita. Jadi si Nicholas Negroponte yang nulis buku ini punya gagasan mendasar tentang perbedaan bit dan atom yang menjadi konsekuensi untuk memahami jaman digital sekarang ini. Kalian kalo pernah sekolah tentu kenal apa yang namanya atom kalo nggak salah kan atom adalah partikel terkecil dari sebuah benda, jadi semua benda baik hidup dan mati di dunia ini terdiri dari atom-atom ya kan? moga-moga nggak salah deh gue. Lantas apa sih bit? Bit adalah unsur terkecil dalam DNA informasi. Kalo Atom terdiri dari proton dan netron, sementara bit memiliki dua keadaan yaitu on dan off yang disimbolkan sebagai 1 dan 0. Nah kalo loe liat film The Matrix kan ada tuh simbol angka-angka 1 dan 0 yang menyusun dunia virtual tempat Neo beraksi. Nggak perlu pusing deh soal apa itu bit, secara simpelnya sih semua benda yang bisa kita sentuh terdiri dari atom sementara kode-kode informasi yang kita terima terdiri dari rangkaian bit. Bit inilah yang menjadi unsur dasar pembentuk komputasi digital. Hebatnya lagi kita bisa mendigitalisasi informasi seperti suara dan gambar dalam kode binner yang diwakili oleh 1 dan 0. Contohnya kalo kamera yang nyimpen data dalam bentuk negatif film berarti data tersebut masih disimpan melalui media fisik (atom), kalo dengan kamera digital, rekaman gambar kita disimpan dalam bentuk file digital (bit). Sementara citraan visual yang kita rekam dalam memori kita juga hanya terdiri dari kode-kode binner (bit) yang diproses oleh otak kita.
Lebih jauh lagi, Negroponte tidak hanya menyinggung soal inovasi teknologi digital dengan ditemukannya PC (Personal Computer), OS Windows, kepingan CD, TV, internet dan lain-lain tetapi juga tentang peralihan dari abad industri ke abad pasca industri atau abad informasi dan kita sekarang sedang melangkah menuju ke era pasca informasi. Abad industri adalah zaman produksi ekonomi massal yang datang dari bidang manufaktur dengan produknya yang masih berorientasi pada atom, dengan metode yang seragam dan berulang dalam ruang dan waktu mana pun. Abad informasi adalah juga abad komputer meski skala ekonominya sama tapi tidak lagi bergantung pada ruang dan waktu karena teknologi informasi telah meniadakan jarak ruang dan waktu itu sendiri.
Lantas zaman pasca informasi seperti apa, Negroponte mengupas tentang kehidupan digital dengan tulang punggung jaringan internet. Cara berinteraksi dan berbisnis di zaman digital ini akan mengalami pergeseran besar. Kita bisa melihat sekarang cara berinteraksi dan berkomunitas juga melalui internet, mencari pekerjaan lewat internet, berkencan pun bisa dengan internet yang terdiri dari milyaran bit-bit informasi. Di Indonesia pertumbuhan warnet di kota-kota besar menunjukkan pertumbuhan yang terus meningkat. Sistem perbankan pun sudah online dengan atm dan mesin gesek credit card dimana-mana. Secara nggak sadar transaksi keuangan pun sudah online, kita merasa lebih nyaman menggunakan kartu kredit dan kartu debit untuk bertransaksi, uang pun bukan terdiri dari kertas (atom) tapi perpindahan informasi bit-bit dari rekening ke rekening. Pelan-pelan tapi pasti digitalisasi mengubah aspek-aspek kehidupan kita.
Gue nggak bisa memastikan apakah kita sudah memasuki era pasca informasi seperti yang diramalkan Negroponte tapi jujur saja komputer dan internet membuat gue punya cara pandang baru terhadap pola pekerjaan gue. Bukan kah menyenangkan ketika kita bekerja tanpa terikat dengan ruang dan waktu, dengan komputer yang tersambung online sementara kita menjual ide-ide kita (dalam bit tentunya) ke seluruh dunia dan uang mengalir sendiri ke rekening kita? Semakin lama mungkin semakin banyak orang yang bekerja untuk dirinya sendiri, dan majikan terbesar di abad digital nanti adalah “diri sendiri”...hmm menyenangkan juga.[..]

Karl Marx dan Marxisme, banyak orang merinding mendengarnya saat rezim orde baru berkuasa. Bagaimana tidak? ribuan orang telah menjadi tumbal politik karena dicap marxist dan komunis. Sedemikian mengerikankah Marx dan Marxismenya? sehingga rezim orde baru begitu ketakutan dan mengalami phobia yang berkepanjangan terhadap aliran pemikiran ini. Pelarangan ajaran Marxisme secara total, memang telah menutup pemahaman publik terhadap Marxisme itu sendiri, publik hanya mengenal bayangan hitam Marxisme sebagai “setan” yang berbahaya, tanpa kesempatan mengenal bagaimana Marxisme dipahami dalam wacana intelektual dan ilmiah. Pergesekan wacana publik yang telah sedemikan lama membeku memang masih menyisakan trauma-trauma politik di masa lalu, tidak terkecuali di jaman reformasi sekarang ini. Memang akhir-akhir ini buku-buku kiri begitu marak diterbitkan, dan konon laku keras di pasaran. Bagaikan kran yang terbuka setelah tersumbat selama 32 tahun rezim orba, kini antusiasme publik terhadap hal-hal yang berbau kiri begitu tinggi dari buku hingga barang-barang merchandise semacam tas, poster atau syal. Bahkan ada kecenderungan terjadi komodifikasi hal-hal yang berbau kiri, apakah kiri telah bergeser menjadi trend bukan sebagai keterterikan ideologis? Saat kapitalisme, hedonisme dan budaya pop menemukan jamannya. Siapapun bisa membeli Che Guevara lewat sepotong poster dan tas atau menikmati Lenin dalam nyamannya kaos oblong. Nah, apa salahnya kita berkenalan dengan Marx melalui lembar-lembar komik.
Buku komik Marx Untuk Pemula setebal 155 halaman ini--setelah sempat bergerilya dalam bentuk komik fotokopian dari tangan ke tangan di kalangan aktivis kiri di kampus-kampus--adalah terjemahan dari Marx for Begginer karangan Rius (seorang kartunis dari Mexico).. Pemikiran-pemikiran Marx yang radikal memang sangat akrab di sebagian kaum muda kita. Ide-ide tentang pertentangan kelasnya telah banyak diadopsi dalam berbagai pemikiran-pemikiran sosial. Terus terang. jika berbicara teori kelas kita tak bisa mengabaikan pemikiran Marx.
Membaca Marx dalam format komik tentu lebih menyenangkan daripada anda membacanya dalam buku-buku tebal (dijamin membikin kening anda pasti berkerut-kerut!). Sebagaimana judulnya, komik ini diperuntukkan bagi pemula yang ingin mengetahui siapakah Marx beserta Marxismenya. Melalui gaya yang jenaka Rius mengurai Marx dengan menelusuri latar belakang pemikirannya, kehidupan pribadi serta ide-ide besar yang dihasilkannya. Dengan menelusuri latar belakang pemikiran Marx, komik ini sekaligus menjadi pengantar filsafat yang ringkas. Di sini anda akan berjumpa dengan Hegel, Kant, Feuerbach, Descartes, Spinoza bahkan filsuf-filsuf seperti Heraclitus, Phytagoras, Socrates, Aristoteles, Democritus dan Plato tidak ketinggalan ikut nongol juga. Layaknya sebuah sejarah pemikiran, Marx adalah salah satu tonggaknya.
Lahirnya sebuah pemikiran tentu tidak bisa lepas dari konteks jamannya, begitu juga Marx. Penggambaran kehidupan pribadi Marx akan memudahkan kita memahami gejolak-gejolak pemikirannya. Kehidupan pribadi Marx sendiri ternyata sangat memprihatinkan, selalu dalam kubangan kemiskinan. Marx tersingkir dari pekerjaan dan negaranya justru karena tulisan-tulisan dan pemikirannya. Marx sekeluraga beruntung memiliki seorang sahabat seperti Engels yang membantunya di saat krisis. Engels juga yang kelak menyelessaikan dua jilid terkahir berdasar catatan Marx dari tiga jilid karya besar Das Kapital yang hanya sempat diselesaikan Marx satu jilid saja. Marx meninggal dalam keadaan sakit dengan kondisi yang sangat miskin. Ide-ide Marx telah mengubah dunia, banyak perubahan-perubahan dan gerakan-gerakan masyarakat seperti di Kuba, Rusia, China, Chili, Vietnam bahkan Indonesia terinspirasi oleh pemikiran-pemikiran Marx. Kritiknya terhadap kapitalisme, penindasan kelas, alienasi, dialektika, materialisme historis sampai cita-cita masyarakat tanpa kelas, masih menjadi perdebatan sampai sekarang.
Secara ringkas, komik ini cukup membantu untuk memahami Karl Marx dan pemikirannya. Gambar-gambar dan teks yang disajikan bisa diandaikan sebagai sebuah potongan-potongan rekaman sejarah perjalanan panjang pemikiran manusia. Karl Marx boleh mati, tapi Marxisme telah membelah dunia menjadi dua. Mereka yang memujanya dan mereka yang mencaci-makinya.