Entry: Pendidikan Diterkam Kapitalisme Global Thursday, September 15, 2005






Beruntunglah loe yang hari gini masih bisa sekolah dan kuliah tanpa pusing mikirin duit buat bayar fasilitas pendidikan yang beberapa tahun ini mahalnya gila-gilaaan. Sadar nggak kalau banyak temen-temen kita banyak yang nggak seberuntung loe yang kuliah di universitas bergengsi dan berangkat kuliah naik mobil mewah keluaran terbaru. Oke lah Sekolah emang butuh biaya tapi seharusnya negara punya kebijakan yang memihak saudara-saudara kita yang masih dikategorikan sebagai orang-orang miskin. Sebenarnya apa yang bikin sekolah jadi begitu mahalnya. Gue rasa kita harus mengkritisi apa yang digembar-gemborkan sebagai globalisasi ekonomi. Lho apa hubungannya globalisasi dengan sekolahan? begini jack,...orang tua loe pasti nyekolahin loe semua biar jadi pintar kan? biar bisa dapet kerja biar hidupnya makmur dst. Jadi lembaga sekolahan pada awalnya adalah tradisi umat manusia mempertahankan eksistensinya. Masyarakat mendidik generasi-generasi penerusnya lewat lembaga sekolah, mentransfer nila-nilai, keahlian dan kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan sosial maupun alam. Nah, itu adalah visi mulia pendidikan lantas apa hubungannya dengan globalisasi?

Baik, kita lihat aja ya perkembangan mutakhir zaman sekarang ini. Kita semua sekarang sedang memasuki zaman baru yang ditandai dengan globalisasi ekonomi dan menguatnya paham Pasar Bebas. Paham ini telah menggeser visi mulia lembaga pendidikan tadi menjadi sekedar alat untuk mencari keuntungan alias akumulasi kapital yang akhirnya menempatkan pendidikan hanya sebagai komoditi ekonomi. Bagaimana prosesnya, kita bisa melihat apa yang dilakukan oleh aktor-aktor utamanya yaitu Trans National Corporations (TNCs) dibantu oleh Bank Dunia/IMF melalui kesepakatan yang dibuat di WTO yanga menganut paham bahwa pertumbuhan ekonomi hanya bisa dicapai sebagai hasil normal melalui kompetisi bebas. Jadi mekanisme proses ekonomi benar-benar diserahkan pada pasar bebas tanpa campur tangan pemerintah dan negara. Implikasinya ya pemerintah dijauhkan dari campur tangan untuk meregulasi perusahaan-perusahaan swasta. Semua aspek mengalami liberalisasi termasuk di bidang pendidikan. Salah satu yang sangat terasa adalah proses otonomi kampus dan pencabutan subsidi pendidikan karena subisidi pendidikan akan menghambat persaingan bebas dalam bidang pendidikan.

Tapi kan seharusnya pemerintah juga punya otonomi untuk mengatur semua aspek yang berhubungan dengan rakyatnya agar tercapai keadilan dan kemakmuran? Gimana mo ngatur-ngatur jack? Pemerintah kita ini adalah pemerintah yang miskin terjerat hutang internasional yang tak lain dikucurkan para aktor utama pasar bebas yaitu Bank Dunia dan IMF didukung barisan negara-negara maju yang dipimpin Amerika Serikat. So...kita-kita bisa ngeliat kan bahwa proses penghisapan ini adalah bentuk neo kolonialisme. Siapa yang menentang liberalisasi akan dihancurkan dengan segala cara kalau perlu dengan agresi militer seperti yang dialami Afganistan dan Irak.

Virus globalisasi ini juga mendorong individualisme, jika dulu tanggung jawab pendidikan adalah dipikul oleh publik dalam hal ini negara yang mengatur penyelenggaraan pendidikan serta menjamin hak semua warga negara memperoleh pendidikan, tetapi karena proses liberalisasi serta hutang yang membangkrutkan negara dan pemerintah, tanggung jawab pendidikan sepenuhnya dibebankan kepada individu. Harga pendidikan yang dulu disubsidi negara akhirnya dibebankan pada rakyat secara individual. Proses ini mendorong dunia pendidikan mengalami pergeseran dari fungsi awalnya dengan masuknya kepentingan modal sebagai penyelenggara pendidikan yang memposisikan pendidikan sebagai komoditas.

Buku berjudul Kapitalisme Pendidikan karangan Francis Wahono ini mencoba memberikan konsep pendidikan yang memanusiakan dan memerdekaan. Komodifikasi pendidikan sekarang ini cenderung tidak memerdekakan dan memanusiakan. Pendidikan hanya bisa diakses oleh kelas sosial tertentu yaitu kelas yang menikmati kucuran rejeki globalisasi. Pendidikan justru mempertegas demarkasi kelas sosial bukan memfasilitasi mobilitas vertikal antar kelas. Buku ini mencoba mencari solusi untuk menciptakan mekanisme yang sehat dalam penyelenggaraan pendidikan yang mengembalikan pendidikan sebagai tanggung jawab masyarakat bersama bukan tanggung jawab individual. Beberapa tinjauan aspek ekonomi pendidikan dikupas dengan data-data kuantitatif, sebenarnya gue males membaca angka-angka statistik tetapi penting juga untuk melihat data statistik sebagai data penting yang mendukung konsep dan paradigma pendidikan yang berkeadilan sosial. Gue rasa persoalan degradasi visi pendidikan oleh pengaruh liberalisasi ekonomi harus kita sikapi sama-sama sebagai tanggung jawab bersama bahwa pendidikan seharusnya untuk memanusiakan manusia serta menjunjung tinggi kemanusiaan itu sendiri.

Mungkin loe masa bodoh aja dengan persoalan ini karena loe adalah bagian dari kelas elit yang menjadi agen kapitalisme global (juga neo kolonialis). Loe nggak sadar jika proses yang memapankan loe di kelas elit dan makmur negeri ini sudah mengorbankan kaum miskin melalui proses kolonialisme ekonomi. Satu-satunya cara mereka untuk bisa lepas dari lingkaran kemiskinan adalah melalui pendidikan, jika pendidikan adalah sebuah harga yang mahal kita tidak akan pernah menjadi bangsa yang merdeka karena telah terjadi proses pemiskinan struktural besar-besaran di negeri ini. Semoga ada setitik keberanian bagi kita semua untuk melawan proses kolonialisme ekonomi yang berkedok globalisasi dan liberalisasi ini.[...]

   3 comments

riqi
July 7, 2009   11:52 PM PDT
 
hei gw jg satuju dgn pendapat lo,gw salut org seperti lo ,ini nama ny peduli INDONESIA hehehe.tp gw pny pendapat ne,kyk ny bukan pemerintah ny aj yg berbuat curang trhadap pasilitas pendidikan ini ,setau pendapat saya ne biaya pendidikan yg GERATIS itu ada ,tp oknum" yg di dlm pendidikan itu sendiri yg melaku kan penyelewengan, bs juga dbilang KORUPSI hehehe, terhadap biaya itu sendiri,toh tetap di minta juga biaya pendidikan GARATIS itu hehehe.ini hanya pendapat ya man hehehehe
qayuum
October 18, 2006   10:06 PM PDT
 
aku setuju bahwa lembaga pendidikan mulai dari tingkat dasar hingga tinggi sekarang ini telah berubah fungsinya menjadi "industri pendidikan. Tetapi bukan berarti kita harus mengatakan bahwa sekolah telah mati dan buku tetap hidup (deadschool and book still live). sebab dari dua ratus juta warga indonesia, baru sebagian kecil yang dapat membaca dan menyukai buku. oleh karena itu yang harus kita rubah adalah fungsi sekolah sekarang ini. caranya sangat beragam karena saya kuliah di UNJ (lembaga penghasil guru )maka saya bisa merubahnya dari dalam dengan memposisikan diri saya sebagai guru. atau kita berjuang dari luar dengan menggugat kebutaan pemerintah akan realitas pendidikan hari ini. longlife education!
Ady
January 27, 2006   09:52 AM PST
 
hey, gw setuju ama loe, man. Jarang-jarang ada orang yang peduli pada kehidupan orang laen. Yang gw tau, semua orang akan berusaha mengorbankan apapun dan siapapun untuk kepentingan dirinya(maksimal dirinya dan keluarganya, atau pacarnya). Gw sendiri sekarang dah mulai males kuliah karena biaya yang mahal. Bisa bantu gw ga gimana cari kerjaan buat biaya tsb.? sorry out of topic neh hehe, e-mail gw ruddyisthebest2003@yahoo.com.sg atau liveforjc@hotmail.com. Thanks.

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments